Stunting Mengancam Generasi Emas Indonesia 2030

Stunting Mengancam
Generasi Emas Indonesia 2030

Masalah kurang gizi kronis dalam waktu cukup lama

Ini bukan soal pantas tak pantas kalau di negeri se”kaya” Indonesia diketemukan kasus pertumbuhan terhambat pada anak. Ini soal kenyataan!

Data tersiar (World Bank) yang terbaru, “Sekitar 37% atau 9 juta balita Indonesia saat ini mengalami stunting, yaitu pertumbuhan yang terhambat termasuk otak sang anak,” demikian ujar Country Director World Bank Indonesia Rodrigo Chavez dalam sebuah acara di Jakarta (19/9/18).

Yang membuat  jadi lebih miris, situasi ini menjadi alasan Indonesia mengikatkan diri pada utang baru, mendapatkan pinjaman sebesar US$ 400 juta atau setara Rp 5,8 triliun (kurs Rp 14.500) dari World Bank.

Memang Indonesia menduduki peringkat kelima dengan stunting terbanyak di dunia. Stunting sendiri merupakan salah satu dari permasalahan kekurangan gizi utama yang sering ditemukan pada balita. Hal ini terjadi karena kekurangan gizi kronis pada waktu lama (dari dalam kandungan hingga usia 2 tahun) di awal masa pertumbuhan akibat kemiskinan atau pun pola asuh yang tidak baik karena kurangnya pendidikan dan pengetahuan.

Stunting juga dapat berdampak pada kegagalan pertumbuhan, keterlambatan kognitif anak, serta produktivitas yang rendah, daya tahan tumbuh rendah sehingga berdampak pada resiko gangguan metabolik serta bisa memicu kejadian penyakit tidak menular saat dewasa seperti diabetes tipe 2, stroke, penyakit jantung, dan lain sebagainya. Hal ini tak hanya berdampak pada masa depan anak, namun juga masa depan bangsa. Stunting mempengaruhi kualitas dan kuantitas SDM yang mampu berkembang dan berkontribusi untuk bangsa.

Kemiskinan dan kelemahan ekonomi berujung pada masalah pendidikan dan gizi buruk. Gizi buruk di masa pertumbuhan menghasilkan generasi yang tidak kompetitif dan kemampuan pikirnya sangat rendah. Inilah salah satu lingkaran setan yang harus bersama dipatahkan!