Stunting Membuat HDI Indonesia Terus Turun?

Stunting Membuat HDI Indonesia Terus Turun

Stunting Membuat HDI Indonesia Terus Turun?

Human Development Index (HDI) adalah tolak ukur kualitas manusia yang disusun PBB. Indonesia ketinggalan jauh dibanding Singapura (posisi 9) Malaysia (57) dan Thailand (83). Laporan tahun 2018, Indonesia berada di urutan 116. Ini turun dari peringkat 2 tahun berturut-turut dimana sebelumnya Indonesia berada di peringkat 110, ke 113.

Dengan posisi itu, Indonesia masih masuk kategori “sedang” dalam urusan pembangunan manusia seutuhnya. Sementara Singapura dan Malaysia masuk kategori “maju sekali” dan Thailand masuk kategori “maju”.

Perubahan nomenklatur Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA) menjadi Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ternyata tidak berarti apa-apa.

Pertanyaannya, apa ukuran penilaian HDI? Oleh PBB (dalam hal ini diwakili UNDP) penilaian itu berdasar variabel antara lain : angka harapan hidup, angka rata-rata masa sekolah, pengeluaran per kapita, dll.

Yang menohok, laporan UNDP itu menjelaskan bahwa meskipun usia harapan hidup (life expectancy) negara-negara di dunia terus naik secara dramatis, namun tidak diikuti oleh kenaikan usia harapan hidup sehat (healthy life expectancy) secara signifikan.

Misalkan usia harapan hidup seseorang telah mencapai 80 tahun, namun sejak umur 70 tahun menderita berbagai penyakit. Ini juga menjadi tantangan bagi Indonesia ke depan. Defisit BPJS Kesehatan bisa terus membengkak jika kebijakan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif tidak segera dilaksanakan.

Apakah hal ini terkait dengan stunting? Hampir pasti, iya! Angka harapan hidup jelas terkait dengan asupan gizi sejak masa janin dalam kandungan. Harapan hidup sehat juga sangat tergantung dengan asupan gizi bayi hingga usia 8 tahun.

Tidak usah menunggu penduduk usia Indonesia sampai usia 70 atau 80 tahun, tahun 2030 nanti bisa dilihat bagaimana kulitas anak-anak yang sekarang berusia 1-8 tahun. Bila angka stunting nasional yang berada di kisaran 30-an persen tetap tidak bisa diturunkan, maka 30 persen mereka yang dalam usia produktif akan tidak maksimal dalam perkembangannya. Ya kemampuan fisik, otak, mental dan lain-lain.

Kalau sudah begini, jangan berharap akan lahir generasi-generasi emas. Yang lahir adalah adalah generasi kelas “besi bekas”. Lalu apakah kita harus putus asa dengan keadaan ini? Tentu tidak. Semua harus bergerak menyelamatkan generasi emas!

Untuk itulah, agar nanti lahir dan muncul generasi emas di tahun 2030, mulai sekarang kami bergerak untuk ikut serta membantu masyarakat kurang mampu untuk mendapat asupan gizi yang cukup. Dan kami sebagai relawan yang tergabung dalam GERAKAN EMAS siap menjadi fasilitator bagi donator dan penerima donasi.

Jika Anda tertarik dan tergerak ikut serta menyelamatkan generasi emas Indonesia, silakan KLIK DI SINI.